Tips #15: Memastikan port USB 3.0 bekerja pada kecepatan seharusnya

Tips and Trick kali ini diperoleh penulis secara tidak disengaja. Penulis memiliki sebuah notebook kecil yang ringan (sebuah notebook Asus X200MA) dengan spesifikasi yang tidak terlalu canggih (Celeron Quad-core) namun memiliki sebuah port USB 3.0 yang secara teori dapat mentransfer data jauh lebih cepat daripada port USB 2.0.

Penulis sudah menggunakan notebook ini selama hampir 1 tahun, dan selama digunakan, port USB 3.0 nya berjalan tanpa masalah dengan berbagai macam perangkat yang terhubung. Penulis “merasa” bahwa port USB 3.0 ini cukup cepat. Namun rasa ingin tahu dan penasaran membuat penulis mencoba aplikasi CrystalDiskMark untuk menguji flashdisk Sandisk Extreme yang diklaim memiliki kecepatan baca sampai dengan 245 MB/s serta kecepatan tulis sampai dengan 50 MB/s (untuk model 16 GB).

Namun betapa kaget nya penulis ketika mendapati bahwa hasil benchmark yang diperoleh hanya sekitar 30-40 MB/s untuk kecepatan baca, serta sekitar 10-15 MB/s untuk kecepatan tulis. Bukankah itu hasil yang harusnya diperoleh sebuah port USB 2.0? bukan USB 3.0!

Hasil mengecewakan ini membuat penulis semakin penasaran dan mulai menelusuri aplikasi Device Manager pada Windows 10. Dari Device Manager, ditemukan bahwa pada bagian Universal Serial Bus controllers bagian bawah terdapat beberapa device yang bertuliskan Generic USB Hub, tidak ada satupun yang menyatakan bahwa notebook penulis memiliki port USB 3.0.

Penulis kemudian mencoba mengupdate driver USB tersebut namun dinyatakan bahwa driver yang terpasang sudah merupakan versi terbaru. Penulis juga mencoba menghapus Generic USB Hub tersebut pada Device Manager dan melakukan restart, namun hasilnya sama saja. Nah, dalam usaha terakhir yang  desperate, akhirnya penulis mencoba masuk ke dalam BIOS dan mencari-cari setting yang diperkirakan berhubungan dengan USB.

Disinilah penulis menemukan opsi “XHCI Mode” pada BIOS notebook penulis, opsi tersebut dinyatakan sebagai disable. Namun sebelum penulis merubahnya, penulis terlebih dahulu mencari informasi di Internet mengenai XHCI ini dan menemukan beberapa referensi dari forum Intel yang menerangkan apa itu XHCI dan apakah perlu di enable atau tidak. Jawaban yang penulis temukan ternyata sebagian besar menyarankan agar XHCI di enable kecuali pada kasus khusus dimana perangkat USB yang kita pasang tidak kompatibel dengan XHCI. Jika XHCI ada pada opsi disable, maka port USB 3.0 yang dimiliki akan bekerja ada mode USB 2.0.

bios
Atas temuan itu, penulis akhirnya mengaktifkan XHCI dengan merubah settingnya menjadi Enable, menyimpan setting BIOS, lalu me-restart notebook. Setelah menjalankan kembali Windows 10, penulis membuka Device Manager pada bagian Universal Serial Bus controllers dan kali ini menemukan beberapa referensi yang menyebutkan Intel(R) USB 3.0 eXtensible Host Controller – 1.0 (Microsoft) serta USB Root Hub (xHCI), terlihat disini telah terjadi perubahan konfigurasi driver.

xhci

Perhatian! nama driver USB 3.0 pada notebook pembaca mungkin berbeda dari apa yang tertulis di atas, namun mungkin akan terdapat juga kata-kata xHCI ataupun USB 3.0.

Selanjutnya penulis kembali menjalankan aplikasi CrystalDiskMark dan voilà! Kali ini hasil benchmark nya lebih cocok dengan kemampuan USB 3.0. Performa baca nya melonjak menjadi lebih dari 210 MB/s dan tulis nya menjadi lebih dari 55 MB/s!!

hasil-crystaldiskmark

Jadi, intinya, bagi para pemiliki notebook ataupun PC yang merasa performa port USB 3.0 nya tidak secepat yang diharapkan, coba cek setting BIOS terlebih dahulu. Pada PC ataupun notebook merek dan tipe lain mungkin opsi yang berhubungan dengan USB 3.0 ini akan tertulis jelas dengan kata-kata USB 3.0. Namun dalam kasus notebook Asus X200MA milik penulis (dan mungkin beberapa notebook ASUS tipe lain), opsinya tertulis sebagai XHCI tanpa menyebut-nyebut USB 3.0 sama sekali. Jika opsi ini berada pada posisi disable, coba ubah menjadi enable dan uji kembali kecepatan port USB 3.0 pada notebook pembaca. Semoga kini port USB 3.0 nya akan benar benar berfungsi. Selamat mencoba!

Disclaimer: Harap selalu berhati-hati dalam merubah setting BIOS, pada konfigurasi tertentu, perubahan setting BIOS dapat menyebabkan tidak berfungsinya Windows. Pastikan pembaca memiliki backup data terlebih dahulu dan memiliki cukup pengetahuan tentang BIOS. Jika ragu, minta pihak Service Center untuk melakukan perubahan setting BIOS ini untuk pembaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s