ARM memperkenalkan arsitektur baru, DynamIQ, penerus big.LITTLE

Tidak semua kalangan tahu siapa itu ARM, namun ARM secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. ARM lah yang memiliki lisensi desain processor yang digunakan oleh sebagian besar gadget yang kita gunakan sehari-hari, sebut itu smartphone, tablet, smartwatch, smartTV, dan banyak lagi device lainnya. Desain ARM bahkan digunakan juga pada banyak perangkat jaringan dan server-server generasi terbaru.

Kesuksesan ARM menjual desain microprocessor terbilang fenomenal, melalui partner-partnernya (catatan: ARM tidak membuat processor fisik secara langsung, namun melisensikan desain processornya), dalam 22 tahun awal berdirinya ARM, mereka berhasil menjual sekitar 50 miliar chip, dan pada 4 tahun berikutnya — sampai dengan tahun 2017 ini — ARM berhasil menjual 50 miliar chip lagi. Namun ARM tidak hanya diam menikmati suksesnya, mereka memiliki target baru bahwa dalam 5 tahun kedepan, ARM bertekad untuk dapat menjual 100 miliar chip ke pasar dunia.

Target besar seperti itu tentunya tidak akan mudah dicapai dengan berpuas diri pada teknologi yang ada, apalagi karena sang raksasa chip, Intel, sudah mulai juga masuk ke pasar yang sama dengan ARM. Tidak heran jika kemudian ARM memperkenalkan arsitektur baru yang dinamakan DynamIQ. Ini merupakan satu upaya ARM untuk tetap kompetitif berada di lini depan persaingan.


DynamIQ merupakan sebuah arsitektur baru yang memiliki konsep yang agak berbeda dengan arsitektur big.LITTLE yang saat ini sudah digunakan banyak vendor. Pada arsitektur big.LITTLE, sebuah chip yang memiliki beberapa core, 8 misalnya, biasanya akan dibagi ke dalam dua cluster besar yang terdiri dari 4 core performa tinggi dan 4 core efisiensi daya tinggi. Ke-dua cluster tersebut terhubung dengan interkoneksi (switch fabric) untuk dapat berkomunikasi.

Arsitektur big.LITTLE ini terbilang cukup sukses digunakan pada smartphone dan gadget lainnya, karena mampu menentukan cluster mana yang diaktifkan bergantung kepada jenis aplikasi yang sedang dijalankan. Pada aplikasi yang memerlukan tenaga maksimal, big.LITTLE akan mengaktifkan cluster core performa tinggi, sedangkan pada aplikasi sederhana ataupun dalam kondisi idle, maka cluster core efisiensi daya akan diaktifkan. Namun perhatikan bahwa proses aktif dan non-aktif yang terjadi hanya dapat dilakukan per cluster dan bukan per core. Ini yang diperbaharui oleh arsitektur DynamIQ.

Dengan menggunakan sistem satu cluster besar yang terdiri dari berbagai jenis core (performa dan efisiensi), maka setiap core dapat dihidupkan dan dimatikan secara individual. Contoh, dalam sebuah chip yang memiliki 8 core a’la DynamIQ, maka processor dapat memutuskan untuk menghidupkan 4 core performa untuk games atau 2 core performa dan 1 core efisiensi untuk aplikasi tertentu, atau dapat juga menghidupkan 1 atau 2 core efisiensi saja ketika gadget dalam keadaan idle. Disini terlihat bahwa granularity nya lebih baik sehingga performa dapat tetap terjaga namun dengan tingkat efisiensi daya yang lebih baik.

ARM mengatakan bahwa desainnya ini tetap dapat dikombinasikan dengan konsep big.LITTLE jika dibutuhkan jumlah core yang lebih dari 8-core. Lebih lanjut juga ARM menyebutkan bahwa arsitektur baru mereka ini mampu mempercepat kalkulasi AI (Artificial Intelligence) sampai dengan 50 kali lebih cepat. Ditambah lagi, arsiteksur DynamIQ menyediakan  akses kepada chip akselerator pihak ke-3 agar dapat mempercepat proses-proses perhitungan spesifik lainnya.

Inovasi ARM melalui DynamIQ ini berpotensi membuat ARM semakin menguasai pasar processor gadget dan IoT. Intel seharusnya semakin waspada karena bukan tidak mungkin pasar enterprise dan data center pun semakin tertarik dengan konsep yang diusung ARM ini. Apa yang akan Intel lakukan? kita lihat saja nanti apa jawaban Intel terhadap hal ini. Namun yang pasti, persaingan itu sangat baik untuk memicu inovasi demi inovasi. Siapa yang diuntungkan? kita sebagai customer tentunya.

(sumber: PCPer)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s